Kalah ...

aku gak tahu harus kecewa atau bersukur. Sebab keduanya ada dalam diriku saat ini. Malam itu, 5 Desember 2005 adalah malam penentuan obsesiku dalam berkarya. Sayekti dan Hanafi aku bilang karya yang akan diapresiasi dengan hasil 'yang terbaik'. Faktanya, justru Sayekti dan Hanafi dikalahkan oleh sinetron lain. Seperti 'Aviator' kalah oleh 'Million dollar baby'. Martin scorcese yang trully director dikalahkan oleh Clint eastwood, yang memulai karier 'bukan dari sutradara'. Aku tidak tahu ekspresi apa yang seharusnya aku tampakkan pada saat ini? sedih? kecewa? atau justru bersyukur karena ada 'kemenangan lain' yang aku peroleh. Yakni 'kemenangan dalam peperangan melawan egoisme dan kesombongan'. Aku tidak munafik untuk merasa kecewa dan sedih. Aku orang normal yang sekedar ambisius. Sebaiknya aku berfikir jauh kedepan. Kemurungan dan kekecewaan memang tidak ada gunanya. tapi setidaknya aku jadi sadar bahwa apa yang aku lakukan semua salah. Seharusnya aku tidak menghabiskan waktuku untuk film. Aku jadi tidak berjarak dengannya. sehingga kesalahan-kesalahan tidak tampak olehku. Barangkali aku sekarang mulai mengatur emosiku ataupun ambisiku ke arah yang lebih pantas. Bukan buat film. Mungkin buat lebih esensial. Buat hidup itu sendiri. Yeah, film semata-mata Media buat filmaker untuk memahami hidup lebih dalam. Kekalahanku sekarang (dan juga yang sudah-sudah) menyadarkan aku untuk kembali menyadari hidup dari bawah. dari nol. dari tiada ... thanks god ... thanks for your unpredictable blessing to me ...

5 Comments:
seperti tagline blog elu : "The Show Must Go On". Ini kan baru permulaan, jalan masih jauh dan elu belum ada separuh perjalanan sekarang ini, i believe that ...
congratz atas piala Citra-nya ... this is just a beginning ...
thanks buat sugestnya ...
memang, cara pandang orang lain terhadap sesuatu itu berbeda dari kita memandangnya.
sukses selalu mas Hanung!!
Kalah dimana? ahh..tapi saya gak peduli, dihati saya Sayekti & Hanafi adalah pemenang, good job mas!!
Post a Comment
<< Home