Sunday, December 18, 2005

Menang?

Brownies? kenapa? kok?
Aku tahu semua pasti bertanya begitu. Tidak rela? Yup! Aku sadar! Brownies tuh film apaan sih? Cerita cinta basi dan gak bisa diandalkan sedikitpun buat di apresiasi, bahkan buat Festival. Tapi dapet Citra di penyutradaraan, pemain wanita dan tata suara.

Awal bikin Brownies di pertengahan tahun 2003 . Ketika itu Aku datang ke sinemart menawarkan cerita yang berjudul Surakarta 1912. Kisah tentang percintaan dua manusia yang berlainan budaya (Cina dan Jawa), yang mengambil latar belakang sejarah perkembangan industri batik tahun 1912. Aku menyadur secara bebas dari kisah Romeo dan Juliet-Shakespeare. Tapi ...... kemudian ..... Hasil jadinya di bioskop berubah menjadi kisah cinta antara Mel (Marcela) dan Are (Bucek). Mel bukan cina, tapi Jakarta tulen. Sedangkan Are, laki-laki pendiam yang punya kios buku. Keduanya hidup dengan Setting jakarta modern.

Kok bisa begitu?
Surakarta 1912 DIANGGAP TIDAK KOMERSIL. Berat dan Idealis. 'Bikin yang ringan saja' kata pak leo. 'Nih!' Ada tiga lembar HVS berisi cerita. Judulnya Cinta ... Enggak ya? Karya Lina Nurmalina (celakanya dia adalah senior saya di IKJ). Aku butuh waktu Sepuluh menit membaca. kemudian Lima menit Aku diam saja. Mencoba menimang perasaan ku. Pak Leo tahu aku tidak suka. Tapi aku menjawab ... "Bagus! Cerita ini menarik." Pak leo tersenyum dengan jawabanku. Mungkin beliau tidak tahu bahwa dalam hatiku menjerit 'Asuuu ...!'. Tapi karena aku punya kepentingan agar bisa masuk dalam dunia industri film layar lebar (Yang udah aku impikan sejak SMA), aku rela untuk 'Tidak jujur' dengan perasaanku. Karena aku percaya bahwa cerita jelek, ditangani dengan serius, pasti akan ada nilainya. Deal!
Perlahan proses kreatif berlanjut. Mula-mula aku coba diskusi dengan Lina Nurmalina. tapi pada akhirnya kami sama-sama menemui jalan buntu. akhirnya Lina menyerahkan semua ke aku. Kesempatan ini aku pakai untuk merobah sesuai dengan keinginanku.

Berawal dari judul. Waktu itu aku asal sebut Brownies. Karena ketika aku melakukan perobahan, ditemani kue bantet itu. Mengharukan, pak leo suka dengan judul itu. Setidaknya itu membuat gairahku berlanjut.

Tiba-tiba aku stug!!! Mandeg!!! aku gak tahu harus berbuat apa dengan skenario ini. Di tengah aku stress, aku kenal Salman aristo di gedung 28 ketika ada acara pemutaran film pendek. perkenalanku dengan Aris membawa berkah buat Brownies. Ketika Aris baca, dia bilang 'Skenario ini berada dalam stadium 4'. Harus dioperasi. artinya harus diganti dengan plot baru. aku gak tahu apakah pak leo setuju dengan usul itu. Diluar dugaan pak leo setuju. Akhirnya Aris membuat sinopsis baru dengan hanya mengambil nama-nama tokoh utama dan setting cerita dari skenario Lina Nurmalina. Konflik dan latar belakang karakter dibikin baru.

Ajaib sekali.
waktu itu pagi jam 7. aku bangun gara-gara dering Hp tertera nama Leo Sutanto. Kalimat pertama yang beliau ucapin 'Saya suka cerita ini. Ini kayak film Amerika.' terasa banget darah yang semula beku mendadak cairrrr. Jawaban itu adalah harapan dan gairah buat melanjutkan ke penulisan skenario. Dalam waktu 2 Minggu draft pertama selesai. Dengan di bantu Erik sasono dan Salman Aristo skenraio brownies di rombak. Pada saat itu malam tahun baru 2004. Ketika di luar terdengar terompet dan petasan, di rumah Erik Sasono terdengar suara tiga laki-laki berdebat soal plot, dialog, karakter dan cerita.

Begitulah awal Brownies di buat. Tanpa Aris dan Erik, Brownies tetap jadi kue bantet yang tidak ada rasanya. Kami sadar bahwa spirit Brownies adalah memperbaiki sesuatu yang buruk. Kami menjadi reparator. Kami bengkel bagi skenario yang buruk. Dan yang paling menyedihkan kami sadar bahwa kami 'berjarak' dengan apa yang kami bikin.

Tapi hal itu berubah di malam FFI, 15 desember 2005. Tepat jam 11.30 aku dengar nama ku disebutkan sebagai sutradara terbaik. Aku ... gak siap. Aku menjagokan Sayekti Hanafi sebagai pemenang. Bukan Brownies. Aku benar-benar lemas. bukan karena bangga. tapi karena aku harus menerima kenyataan yang sama sekali gak aku impikan. mungkin juga Aris dan Erik. Juga Cesa selaku sahabat dan editor ku. Juga Marcela, aktris cantik yang buatku sama sekali gak pantas disebut best actress karena ke-jaim-annya.

Aku gak tahu harus bersikap bagaimana. Satu-satunya yang ada dalam pikiranku hanyalah minta maaf kepada Riri Reza. Aku tau betul bagaimana perasaan dia. Karena aku sempat merasakan itu ketika malam anugrah Vidya. Hancur. Putus Asa dan down ....

Tapi aku sadar kemudian bahwa, Manusia hanyalah bisa berbuat, Tuhan yang menetukan. Aku jadi ingat kata James Redfield dalam novelnya Charlestine Prophecy, bahwa dlam manuskrip pertama : keberuntungan adalah bagian dari takdir manusia. Manusia kadang tidak menyadari itu.

Yeah, aku ternyata masih harus banyak belajar ....

8 Comments:

Blogger aris said...

Nung, ada skenario yang lebih besar yang kita nggak pernah tau arahnya. Punya Yang Maha Sutradara. Dan katanya lagi, gue selalu percaya ini, keberuntungan itu buat orang yang siap... :)

8:53 AM  
Blogger adhitya said...

Selamat ya Nung. Kemaren hari gue nelfonin elo tapi elonya sibuk. Tika yang ngangkat.

Semuanya ada yang ngatur kok. You deserve all the credit kalo gue bilang.

Rgds.

11:00 AM  
Blogger bumi said...

Thanks ya friends. Buat Aris, emang gua kalo udah kumat logic nya kadang gak percaya bahwa yang maha sutradara itu mengcast gue buat jadi 'yang terbaik' buktinya nasib CAS tragis.

Buat Adith. Gua butuh elo lebih dari sekedar telfon. hehehe ...

10:41 AM  
Blogger bumi said...

This post has been removed by a blog administrator.

10:41 AM  
Blogger Sunny said said...

Hey, relax. Never expect such award will please everybody. Remember when Academy Award prefered Shakespeare in Love over Pulp Fiction? Or Gladiator over Cast Away?

Brownies is a good movie. I mean it. Fyi, I made about it long time ago.

And btw, I like ur style of directing, too. Keep the good work.

1:09 AM  
Blogger Sunny said said...

** I meant "I made a review about it long time ago". Excuse the typo.

(http://movieterritory.blogspot.com/2005/06/brownies.html)

1:10 AM  
Blogger ikeow said...

baru tau nih mas hanung punya blog..
smoga suatu hari mas hanung bisa bikin film yang sesuai hati nurani ya...:)

ps.btw ralat bukunya james redfield itu judulnya "The Celestine Prophecy" :)

11:29 PM  
Blogger MiGueL said...

Mas Hanung salam Kenal...
aku mungkin adalah seorang (dari sekian banyak orang) yang mulai kagum dan menghargai karya seni mu, terutama Film Jomblo, wow... Film ini langsung masuk film teratas Favorit ku(ini jujur lo), bukan hanya karena cerita yang "easy" untuk ditonton, tapi juga dapat dihayati setiap masyarakat (dengan jalan pikiran masing-masing tentunya)khususnya kalangan remaja kaya aku... banyak pelajaran yang dapat ku ambil dari Film ini,, salah satunya kalo boleh ku sebut adalah, Cinta itu memang indah (kyak dialog Ringgo), tapi cinta itu juga hebat, karena saking hebatnya sebuah persahabatan pun lenyap... Pokoknya aku benar2 suka ini Film..
Dan aku sangat kecewa Film ini ga dapet Piala MIMA and FFI 2006... but, is okay,, teruz berkarya mas Hanung!!
Btw, aku nungguin lo Film "kamulah Satu-satunya" dan "Ayat-Ayat Cinta"
Insya Allah aku bakal nonton...
Btw, ku lihat dari Profilenya Mas Hanung Alumni dari Perguruan Muhammadiyah ya...
Weiis sama donk, tapi aku cuma pas SD, tapi aku dibesarkan dikeluarga Muhammadiyah, jadi waluapun aku SMP dan SMA negeri, aku tetap orang Muhammadiyah, aku ga malu, aku malah bangga jadi orang Muhamadiyah,, yang terpenting adalh IMAN dan ISLAM kita masing2..
Thanks yah udah mau baca..

2:42 AM  

Post a Comment

<< Home