Bhumi ...

Barmastya Bhumi Brawijaya, adalah namanya. Barmastya adalah senjata Arjuna berwujud panah yang apabila di tembakkan ke langit akan menghasilkan hujan panah api buat musuhnya. Sedangkan Bhumi Brawijaya berarti tanah perdikan Malang (tempat Raja Brawijaya berkuasa). Oleh ayahnya nama itu diberikan agar kelak Bhumi menjadi api bagi Nusantara yang sedang meredup ini.
Sekarang, Bhumi berumur 5 tahun. Laki-laki berzodiak gemini itu, tepat dilahirkan tanggal 20 Juni 2001. Parasnya tampan, berkulit kuning dan bermata bulat seperti ibunya. Hanya tiga tahun dia tinggal bersama ayah ibunya. selebihnya tinggal bersama neneknya di Malang. Setelah peristiwa perceraian itu, ibunya memilih Bhumi untuk ditinggal di Malang bersama neneknya. Ibunya bekerja di Jakarta memenuhi impiannya menjadi 'wanita mandiri'. Sedangkan ayahnya di Jakarta, tenggelam dalam pekerjaannya sebagai sutradara. Perpisahan itu, membuat Bhumi menjadi anak yang sensitif. Pernah suatu kali dia menangis ketika ayahnya memetik gitar dan menyanyi dengan maksud menghiburnya. Katanya 'Bhumi tidak mau sedih. Bhumi tidak mau nangis.' Lalu ketika ayahnya tampak murung, Bhumi selalu bertanya 'kenapa bapak sedih? Bapak tidak boleh sedih. Bapak tidak boleh nangis.'
Kini Bhumi sudah sekolah. Sudah bisa mengaji, sholat, tapi tidak bisa membaca dan menulis seperti teman-temannya di sekolah. Kata gurunya, Bhumi anak yang aktif dan pintar bergaul. Tapi dia susah dalam belajar. Dia lebih suka bermain. Kebetulan gurunya tidak memaksa dia. Karena bisa-bisa Bhumi akan marah dan memilih untuk pergi jika dipaksa. Ya, Bhumi punya sifat mirip ibunya. Tidak suka dipaksa. Dia bergerak atas dasar keinginannya. Jujur, terbuka dan tidak rendah diri. Anak seusia dia ketika berhadapan dengan orang asing biasanya takut. Tapi Bhumi tidak. Dia lebih suka berkenalan. Bahkan dengan dokter. Seorang anak biasanya takut sama dokter. Tapi Bhumi justru bisa berdialog dengan dokter seperti berdialog dengan ayah ibunya. Sewaktu hendak diperiksa, Bhumi selalu bilang 'Bhumi bisa buka mulut sendiri, pak dokter gak usah maksa pake itu' Sambil menunjuk pada alat yang biasa dipakai buat ngebuka lidah biar tidak menutupi tenggorokannya. Begitulah Bhumi.
Sekarang ini, bhumi sedang sakit amandel. Keceriaan dan ketangkasannya berubah lamban. Amandel membatasi ruang geraknya. Ancaman panas tinggi dan susah menelan karena sakit kerap menghantuinya tiap bulan. Hal itu sudah diketahui sejak setahun yang lalu. Kini Oleh dokter Amandel Bhumi harus diambil. Artinya harus dioperasi. Sebab amandel itu kini sudah menyentuh kendang telinganya dan hampir menyumbat saluran pernapasannya.
Duh gusti! cobaan apa lagi yang akan Kau berikan padanya. Skenario apa yang Kau tulis buat anak itu. Perceraian, perpisahan, kesepian, rasa rindu pada ayah ibunya, rasa cemburu ketika melihat teman-teman sekolahnya bisa dengan mudah mencium ayah ibunya tiap saat, kerap dirasakannya. Tiap hari. Tiap malam. seiring tawanya, seiring lelap tidurnya. Sekarang ditambah lagi penderitaan oleh rasa nyeri tenggorokan akibat amandel. Ada apa dengan Bhumi? Apa salah dia, Gusti? Apakah Kau akan menjadikannya panah api buat Nusantara ini seperti yang ayahnya impikan, karena itu Kau selalu berikan cobaan agar hatinya membara? Begitukah cara Kau mencintai manusia? Ataukah Kau justru hendak berbicara kepada ayah ibunya, bahwa perceraian itu adalah senjata tajam yang siap menikam mati anak-anaknya? Begitukah, Gusti?Tapi kenapa harus Bhumi? Tidak sanggupkah Engkau berteriak lantang dengan ayah ibunya? Ataukah lantaran ayah ibunya terlalu budeg dengan sabda-sabdamu?
Semoga Engkau tidak melakukan itu lantaran Kau kesepian, sehingga Kau ciptakan mainan-mainan Manusia di bumi ini. Termasuk Bhumi, anak kecil bermata bulat itu dan gendut itu.
Kini, rasa nyeri dan panas badan akibat demam itu sedang merasuk ke tubuhnya. Semoga dia baik-baik saja. Sekalipun Ayah dan ibunya berpisah, tapi dalam hati mereka selalu berkata "Bapak sama ibu tidak akan ninggalin kamu ... bapak sama ibu tidak akan ninggalin kamu ..."

