Sunday, December 25, 2005

Bhumi ...


Barmastya Bhumi Brawijaya, adalah namanya. Barmastya adalah senjata Arjuna berwujud panah yang apabila di tembakkan ke langit akan menghasilkan hujan panah api buat musuhnya. Sedangkan Bhumi Brawijaya berarti tanah perdikan Malang (tempat Raja Brawijaya berkuasa). Oleh ayahnya nama itu diberikan agar kelak Bhumi menjadi api bagi Nusantara yang sedang meredup ini.

Sekarang, Bhumi berumur 5 tahun. Laki-laki berzodiak gemini itu, tepat dilahirkan tanggal 20 Juni 2001. Parasnya tampan, berkulit kuning dan bermata bulat seperti ibunya. Hanya tiga tahun dia tinggal bersama ayah ibunya. selebihnya tinggal bersama neneknya di Malang. Setelah peristiwa perceraian itu, ibunya memilih Bhumi untuk ditinggal di Malang bersama neneknya. Ibunya bekerja di Jakarta memenuhi impiannya menjadi 'wanita mandiri'. Sedangkan ayahnya di Jakarta, tenggelam dalam pekerjaannya sebagai sutradara. Perpisahan itu, membuat Bhumi menjadi anak yang sensitif. Pernah suatu kali dia menangis ketika ayahnya memetik gitar dan menyanyi dengan maksud menghiburnya. Katanya 'Bhumi tidak mau sedih. Bhumi tidak mau nangis.' Lalu ketika ayahnya tampak murung, Bhumi selalu bertanya 'kenapa bapak sedih? Bapak tidak boleh sedih. Bapak tidak boleh nangis.'

Kini Bhumi sudah sekolah. Sudah bisa mengaji, sholat, tapi tidak bisa membaca dan menulis seperti teman-temannya di sekolah. Kata gurunya, Bhumi anak yang aktif dan pintar bergaul. Tapi dia susah dalam belajar. Dia lebih suka bermain. Kebetulan gurunya tidak memaksa dia. Karena bisa-bisa Bhumi akan marah dan memilih untuk pergi jika dipaksa. Ya, Bhumi punya sifat mirip ibunya. Tidak suka dipaksa. Dia bergerak atas dasar keinginannya. Jujur, terbuka dan tidak rendah diri. Anak seusia dia ketika berhadapan dengan orang asing biasanya takut. Tapi Bhumi tidak. Dia lebih suka berkenalan. Bahkan dengan dokter. Seorang anak biasanya takut sama dokter. Tapi Bhumi justru bisa berdialog dengan dokter seperti berdialog dengan ayah ibunya. Sewaktu hendak diperiksa, Bhumi selalu bilang 'Bhumi bisa buka mulut sendiri, pak dokter gak usah maksa pake itu' Sambil menunjuk pada alat yang biasa dipakai buat ngebuka lidah biar tidak menutupi tenggorokannya. Begitulah Bhumi.

Sekarang ini, bhumi sedang sakit amandel. Keceriaan dan ketangkasannya berubah lamban. Amandel membatasi ruang geraknya. Ancaman panas tinggi dan susah menelan karena sakit kerap menghantuinya tiap bulan. Hal itu sudah diketahui sejak setahun yang lalu. Kini Oleh dokter Amandel Bhumi harus diambil. Artinya harus dioperasi. Sebab amandel itu kini sudah menyentuh kendang telinganya dan hampir menyumbat saluran pernapasannya.

Duh gusti! cobaan apa lagi yang akan Kau berikan padanya. Skenario apa yang Kau tulis buat anak itu. Perceraian, perpisahan, kesepian, rasa rindu pada ayah ibunya, rasa cemburu ketika melihat teman-teman sekolahnya bisa dengan mudah mencium ayah ibunya tiap saat, kerap dirasakannya. Tiap hari. Tiap malam. seiring tawanya, seiring lelap tidurnya. Sekarang ditambah lagi penderitaan oleh rasa nyeri tenggorokan akibat amandel. Ada apa dengan Bhumi? Apa salah dia, Gusti? Apakah Kau akan menjadikannya panah api buat Nusantara ini seperti yang ayahnya impikan, karena itu Kau selalu berikan cobaan agar hatinya membara? Begitukah cara Kau mencintai manusia? Ataukah Kau justru hendak berbicara kepada ayah ibunya, bahwa perceraian itu adalah senjata tajam yang siap menikam mati anak-anaknya? Begitukah, Gusti?Tapi kenapa harus Bhumi? Tidak sanggupkah Engkau berteriak lantang dengan ayah ibunya? Ataukah lantaran ayah ibunya terlalu budeg dengan sabda-sabdamu?

Semoga Engkau tidak melakukan itu lantaran Kau kesepian, sehingga Kau ciptakan mainan-mainan Manusia di bumi ini. Termasuk Bhumi, anak kecil bermata bulat itu dan gendut itu.

Kini, rasa nyeri dan panas badan akibat demam itu sedang merasuk ke tubuhnya. Semoga dia baik-baik saja. Sekalipun Ayah dan ibunya berpisah, tapi dalam hati mereka selalu berkata "Bapak sama ibu tidak akan ninggalin kamu ... bapak sama ibu tidak akan ninggalin kamu ..."

Sunday, December 18, 2005

Menang?

Brownies? kenapa? kok?
Aku tahu semua pasti bertanya begitu. Tidak rela? Yup! Aku sadar! Brownies tuh film apaan sih? Cerita cinta basi dan gak bisa diandalkan sedikitpun buat di apresiasi, bahkan buat Festival. Tapi dapet Citra di penyutradaraan, pemain wanita dan tata suara.

Awal bikin Brownies di pertengahan tahun 2003 . Ketika itu Aku datang ke sinemart menawarkan cerita yang berjudul Surakarta 1912. Kisah tentang percintaan dua manusia yang berlainan budaya (Cina dan Jawa), yang mengambil latar belakang sejarah perkembangan industri batik tahun 1912. Aku menyadur secara bebas dari kisah Romeo dan Juliet-Shakespeare. Tapi ...... kemudian ..... Hasil jadinya di bioskop berubah menjadi kisah cinta antara Mel (Marcela) dan Are (Bucek). Mel bukan cina, tapi Jakarta tulen. Sedangkan Are, laki-laki pendiam yang punya kios buku. Keduanya hidup dengan Setting jakarta modern.

Kok bisa begitu?
Surakarta 1912 DIANGGAP TIDAK KOMERSIL. Berat dan Idealis. 'Bikin yang ringan saja' kata pak leo. 'Nih!' Ada tiga lembar HVS berisi cerita. Judulnya Cinta ... Enggak ya? Karya Lina Nurmalina (celakanya dia adalah senior saya di IKJ). Aku butuh waktu Sepuluh menit membaca. kemudian Lima menit Aku diam saja. Mencoba menimang perasaan ku. Pak Leo tahu aku tidak suka. Tapi aku menjawab ... "Bagus! Cerita ini menarik." Pak leo tersenyum dengan jawabanku. Mungkin beliau tidak tahu bahwa dalam hatiku menjerit 'Asuuu ...!'. Tapi karena aku punya kepentingan agar bisa masuk dalam dunia industri film layar lebar (Yang udah aku impikan sejak SMA), aku rela untuk 'Tidak jujur' dengan perasaanku. Karena aku percaya bahwa cerita jelek, ditangani dengan serius, pasti akan ada nilainya. Deal!
Perlahan proses kreatif berlanjut. Mula-mula aku coba diskusi dengan Lina Nurmalina. tapi pada akhirnya kami sama-sama menemui jalan buntu. akhirnya Lina menyerahkan semua ke aku. Kesempatan ini aku pakai untuk merobah sesuai dengan keinginanku.

Berawal dari judul. Waktu itu aku asal sebut Brownies. Karena ketika aku melakukan perobahan, ditemani kue bantet itu. Mengharukan, pak leo suka dengan judul itu. Setidaknya itu membuat gairahku berlanjut.

Tiba-tiba aku stug!!! Mandeg!!! aku gak tahu harus berbuat apa dengan skenario ini. Di tengah aku stress, aku kenal Salman aristo di gedung 28 ketika ada acara pemutaran film pendek. perkenalanku dengan Aris membawa berkah buat Brownies. Ketika Aris baca, dia bilang 'Skenario ini berada dalam stadium 4'. Harus dioperasi. artinya harus diganti dengan plot baru. aku gak tahu apakah pak leo setuju dengan usul itu. Diluar dugaan pak leo setuju. Akhirnya Aris membuat sinopsis baru dengan hanya mengambil nama-nama tokoh utama dan setting cerita dari skenario Lina Nurmalina. Konflik dan latar belakang karakter dibikin baru.

Ajaib sekali.
waktu itu pagi jam 7. aku bangun gara-gara dering Hp tertera nama Leo Sutanto. Kalimat pertama yang beliau ucapin 'Saya suka cerita ini. Ini kayak film Amerika.' terasa banget darah yang semula beku mendadak cairrrr. Jawaban itu adalah harapan dan gairah buat melanjutkan ke penulisan skenario. Dalam waktu 2 Minggu draft pertama selesai. Dengan di bantu Erik sasono dan Salman Aristo skenraio brownies di rombak. Pada saat itu malam tahun baru 2004. Ketika di luar terdengar terompet dan petasan, di rumah Erik Sasono terdengar suara tiga laki-laki berdebat soal plot, dialog, karakter dan cerita.

Begitulah awal Brownies di buat. Tanpa Aris dan Erik, Brownies tetap jadi kue bantet yang tidak ada rasanya. Kami sadar bahwa spirit Brownies adalah memperbaiki sesuatu yang buruk. Kami menjadi reparator. Kami bengkel bagi skenario yang buruk. Dan yang paling menyedihkan kami sadar bahwa kami 'berjarak' dengan apa yang kami bikin.

Tapi hal itu berubah di malam FFI, 15 desember 2005. Tepat jam 11.30 aku dengar nama ku disebutkan sebagai sutradara terbaik. Aku ... gak siap. Aku menjagokan Sayekti Hanafi sebagai pemenang. Bukan Brownies. Aku benar-benar lemas. bukan karena bangga. tapi karena aku harus menerima kenyataan yang sama sekali gak aku impikan. mungkin juga Aris dan Erik. Juga Cesa selaku sahabat dan editor ku. Juga Marcela, aktris cantik yang buatku sama sekali gak pantas disebut best actress karena ke-jaim-annya.

Aku gak tahu harus bersikap bagaimana. Satu-satunya yang ada dalam pikiranku hanyalah minta maaf kepada Riri Reza. Aku tau betul bagaimana perasaan dia. Karena aku sempat merasakan itu ketika malam anugrah Vidya. Hancur. Putus Asa dan down ....

Tapi aku sadar kemudian bahwa, Manusia hanyalah bisa berbuat, Tuhan yang menetukan. Aku jadi ingat kata James Redfield dalam novelnya Charlestine Prophecy, bahwa dlam manuskrip pertama : keberuntungan adalah bagian dari takdir manusia. Manusia kadang tidak menyadari itu.

Yeah, aku ternyata masih harus banyak belajar ....

Friday, December 09, 2005

Kalah ...


aku gak tahu harus kecewa atau bersukur. Sebab keduanya ada dalam diriku saat ini. Malam itu, 5 Desember 2005 adalah malam penentuan obsesiku dalam berkarya. Sayekti dan Hanafi aku bilang karya yang akan diapresiasi dengan hasil 'yang terbaik'. Faktanya, justru Sayekti dan Hanafi dikalahkan oleh sinetron lain. Seperti 'Aviator' kalah oleh 'Million dollar baby'. Martin scorcese yang trully director dikalahkan oleh Clint eastwood, yang memulai karier 'bukan dari sutradara'. Aku tidak tahu ekspresi apa yang seharusnya aku tampakkan pada saat ini? sedih? kecewa? atau justru bersyukur karena ada 'kemenangan lain' yang aku peroleh. Yakni 'kemenangan dalam peperangan melawan egoisme dan kesombongan'. Aku tidak munafik untuk merasa kecewa dan sedih. Aku orang normal yang sekedar ambisius. Sebaiknya aku berfikir jauh kedepan. Kemurungan dan kekecewaan memang tidak ada gunanya. tapi setidaknya aku jadi sadar bahwa apa yang aku lakukan semua salah. Seharusnya aku tidak menghabiskan waktuku untuk film. Aku jadi tidak berjarak dengannya. sehingga kesalahan-kesalahan tidak tampak olehku. Barangkali aku sekarang mulai mengatur emosiku ataupun ambisiku ke arah yang lebih pantas. Bukan buat film. Mungkin buat lebih esensial. Buat hidup itu sendiri. Yeah, film semata-mata Media buat filmaker untuk memahami hidup lebih dalam. Kekalahanku sekarang (dan juga yang sudah-sudah) menyadarkan aku untuk kembali menyadari hidup dari bawah. dari nol. dari tiada ... thanks god ... thanks for your unpredictable blessing to me ...