PERCAKAPAN (sebuah Cerpen)
PERCAKAPAN
Oleh Hanung Bramantyo
Akhirnya layang-layang itu berhasil di terbangkan. Kuning. Berekor merah. Jingga langit senja itu menciptakan warna kontras. Suara tawa pecah dari mulut anak-anak kecil di lapangan. Gembira ...
kriiing!!
'Hi, Al'
'Hi, Ben. lagi ngapain?'
'Beres-beres. Besok berangkat.'
'Ke Sumbing?'
'Lawu.'
'Kenapa kamu sering ke Lawu?'
'hmm...suka aja.'
'Pasti pinus-pinus itu yang membuatmu jatuh hati.'
'Bukan. batu-batu itu yang membuatku selalu tertantang.'
'haha, kamu emang selalu merasa tertantang dengan apapun. Tidak cuma batu-batu.'
'oh, gitu ya?'
'Yeah. itu juga yang membuatmu selalu tampak antusias.'
'oh ya?'
'Dan ........ menyala.'
layang-layang itu bergoyang tertiup angin. Menukik kebawah tiba-tiba. Anak-anak berteriak 'awass!!!!'.
Kriiing! Kriiiing!
'Hi, Al.'
'baru bangun ya? Sorry, sorry. ntar aku telp lagi, deh.'
'Gak apa-apa. aku emang harus bangun.'
'bener gak apa-apa?'
'hmm ... ada apa?'
'Gimana Lawu?'
'Hujan deras. Kejebak di pos 4. Gak bisa ngapa-ngapain.'
'Yah, Sayang dong.'
'Udah biasa, kok. minggu depan kesana lagi. Mungkin mampir Yogya. Tengok anakku.'
'Aku kangen sama Rangga. Pengen peluk dia.'
'Akhir bulan ini mau aku ajak ke Jakarta. Liburan sekolah.'
'Ikutan dong. Aku kangen banget ama dia.'
'Ntar Suamimu cemburu.'
'Dia gak pernah cemburu. Dia juga gak pernah melarangku kemana-mana. Dia ... seperti tidak peduli sama aku'
'Tapi dia kaya kan?'
'Aku tidak butuh uangnya, Ben.'
'Oh, maaf.'
'Isterimu gimana?'
'apanya?'
'Dia akan kamu ajak?'
'Dia pasti gak mau.'
'Tapi kamu sebenarnya pengen ajak dia, kan?'
'Gak juga. Aku cuma pengen nyenengin Rangga aja. Udah 3 bulan gak ketemu.'
'Kenapa isterimu begitu sih?'
'apanya?'
'Katamu, dia gak peduli sama Rangga lagi.'
'Aku bilang, isteriku ‘seperti‘ tidak peduli sama Rangga. Bukan ‘sama sekali’ tidak peduli. Mungkin karena pekerjaannya. Dia kan workaholik. Tipe perempuan dengan banyak cita-cita dikepala. Cenderung Obsesif'
'Kenapa kamu kawin sama dia?'
'Kawin bukan cuma soal cinta, Al. Kawin soal komitmen?'
'Jadi menurut kamu isterimu gak bisa diajak berkomitmen?'
'Dia orang yg komit. Tapi ketika Rangga lahir, kami seperti kesusahan membagi tugas. Rangga seperti jadi penghalang cita-citanya. Aku sama dia jadi sering salah-salahan tanpa penyelesaian. Akhirnya Rangga yang jadi korban.'
'Kamu cinta isterimu kan, Ben?'
'Aku gak tahu, Al. Sekarang ini cintaku hanya buat Rangga.'
Layang-layang itu berusaha stabil ditengah angin yang mulai mengencang. Bergoyang. Kekiri. Ke kanan. Terlihat si kecil penarik tali layang-layang meringis menahan gunjangan. Luka tangan akibat besetan benang tidak dihiraukan. Pedih. Tapi senang.
'Kenapa kamu tidak cerai dengan isterimu, Ben?'
'Kamu juga kenapa tidak cerai dengan suamimu?'
'Kalau kamu ceraikan isterimu, aku akan ceraikan suamiku'
'Haha ...'
'Aku serius, Ben.'
'Ups. Sorry, aku cuma geli. Kamu tiba-tiba jadi melangkolis.'
'Aku memang melangkolis, Ben. Aku juga rapuh. Aku butuh orang yang memperhatikanku. Mengerti aku. Mencintai aku.'
'Aku bukan orang yang perhatian loh, Al. Aku juga bukan orang yang pengertian.'
'Tapi aku cinta ama kamu, Ben'
Sebuah layang-layang lain mendekat. lebih besar. Berwarna Hijau daun. Tanpa ekor. Anak-anak bersorak. Si Kecil pemegang kendali menjadi tertantang. Matanya yang semula menyipit berubah lebar. Tajam.
Kriiiing! Kriiiiiiiing! Kriiiiiiiiiiing!
'Sorry Al, aku lagi mandi. Bisa telp 5 menit lagi?'
'Gak bisa ya terima telp sambil mandi. Hp mu kan bisa di buka speakernya?'
'Kalau kamu gak keberatan?'
'Aku malah bisa sambil ngebayangin kamu.'
'Hmm ...'
'Aku kangen sekali ama kamu, Ben.'
Layang-layang hijau mulai mengejek layang-layang si kecil. Menantang. Sorak-sorai anak-anak yang lain membuat telinga si kecil jadi panas. Si kecil menggerakkan tangan kanannya, mendekatkan layang-layangnya ke arah lawan.
'Suamimu kemana?'
'Jangan tanya dia kemana. Dia tidak kemana-mana. Tapi aku tidak merasakan kehadiran dia.'
'Kalau sampai dia tahu gimana?'
'Dia bakal gak peduli.'
'Sekalipun kamu bicara soal cinta?'
'Sekalipun aku bicara soal sex dia juga tidak akan peduli. Dia laki-laki dingin. Statis. Tidak bergairah. Tidak sepertimu. Selalu membara.'
'Ah, kamu Al. Aku suka kalau kamu sudah membandingkan aku dengan suamimu.'
'Ben. Aku kangen sama kamu.'
'Aku juga.'
'Aku ke kamar mandi dulu ya. Jangan ditutup hpnya.'
Layang-Layang hijau tidak mau kalah. Dia menukik, menyentuhkan tubuhnya ke ekor si lawan. Terlihat Layang-layang si kecil bergoyang. 'Woooo!!!!' teriak anak-anak yang lain.
'Aku sudah berbaring di bath up, Ben. Kamu?'
'Aku duduk di Closet.'
Layang-layang si kecil membalas menukik tidak mau kalah.
'Ben aku bayangin kamu mendekapku.'
'Aku juga.'
'Aku menyentuhnya, Ben.'
'Aku .... juga menyentuhnya.'
'Aku .... '
'Al ...'
Layang-layang si kecil semakin memburu layang-layang Hijau. Dengan gesit layang-layang hijau menghindar untuk kembali menampar layang-layang si kecil. 'Anjing!' pekik si kecil.
'Aku mulai naik, Ben.'
'Aku suka itu, Al. teruskan.'
'Aku naik, Ben.'
'Aku .... juga.'
'Woooooo!!!!' pekik anak-anak sambil tepuk tangan. Layang-layang hijau mulai menjeratkan benangnya ke layang-layang si kecil.
'Aku gak kuat, Ben. Aku ...'
'Teruskan, Al. Teruskan ...'
Layang-Layang Hijau bergerak-gerak menggesek-gesekkan benangnya ke layang-layang si kecil. Saling tumpang tindih. Saling beradu. Diatas langit senja yang mulai memerah itu kedua layang-layang itu saling menampar. Sengit. Bergairah.
'Aku sebentar lagi, Ben ...'
'Teruskan, Al ...'
'Bennn ...'
'Allll ...'
Benang layang-layang si kecil putus. Melayang tanpa benang terkait. Mengembara menuju langit senja yang mulai memerah. Sendirian. Lepas … Lepas …
Perlahan, mata si kecil menjadi kosong. Nanar. Suara teman-temannya yang mengejek menjadi sumbang. Bergema. Kemudian hilang. Tinggal keheningan yang menyayat. Dia merasakan tubuhnya seperti melayang. hanya airmatanya yang dia rasakan jatuh ke tanah. Dia ... kehilangan.
'Ben ... kenapa kamu tidak mau kawin sama aku?’
‘mmm …’
‘Daripada kita terus-terusan seperti ini.'
'Aku ...'
'Aku bisa jadi Ibu yang baik buat Rangga. Isteri yang setia.'
'Aku tahu Al. Aku tahu ...'
'Ceraikan isterimu. Lalu menikahlah denganku.'
'Aku takut.'
'Takut apa?'
'Aku tidak tahu, Al ...'
'Beni yang aku kenal selalu tertantang sama batu-batu dan lereng-lereng terjal.'
'hentikan, Al ...'
'Berani melawan hujan badai, sekalipun seorang diri diatas gunung ...'
'Hentikan! Please!'
'Berani menari diatas bukit-bukit terjal menantang curamnya jurang.'
'HENTIKAN!!!'
'Aku mencintaimu, Beni! Aku mencintaimu!'
'Aku .... takut. Al'
***
Dengan mata basah, si kecil masuk ke rumah. Seorang lelaki tua mendekati. Menatap matanya yang basah lalu menyeka kelopaknya. Si Kecil tidak berkata apa-apa. Seolah sudah terbiasa dengan sikapnya, si kecil dipeluk. Rasa kehilangan yang menyayat itu perlahan hilang. Berganti rindu. Rindu yang terpendam.
'Bapak kapan datang, kek?'
'Nanti kalau kamu libur sekolah.'
'Rangga kangen ....'
Lelaki tua yang disebut kakek itu kemudian mengajaknya masuk.
Krriiiing! Krrriiiiing!!!! Krrrriiiiiiiiiiiiiiiiing!!!!
‘Hai, gua Beni. Sorry, lagi gak bisa ngangkat telpon. Tinggalin pesan.‘
Jakarta, 23 April 2006
Hanung Bramantyo
Oleh Hanung Bramantyo
Akhirnya layang-layang itu berhasil di terbangkan. Kuning. Berekor merah. Jingga langit senja itu menciptakan warna kontras. Suara tawa pecah dari mulut anak-anak kecil di lapangan. Gembira ...
kriiing!!
'Hi, Al'
'Hi, Ben. lagi ngapain?'
'Beres-beres. Besok berangkat.'
'Ke Sumbing?'
'Lawu.'
'Kenapa kamu sering ke Lawu?'
'hmm...suka aja.'
'Pasti pinus-pinus itu yang membuatmu jatuh hati.'
'Bukan. batu-batu itu yang membuatku selalu tertantang.'
'haha, kamu emang selalu merasa tertantang dengan apapun. Tidak cuma batu-batu.'
'oh, gitu ya?'
'Yeah. itu juga yang membuatmu selalu tampak antusias.'
'oh ya?'
'Dan ........ menyala.'
layang-layang itu bergoyang tertiup angin. Menukik kebawah tiba-tiba. Anak-anak berteriak 'awass!!!!'.
Kriiing! Kriiiing!
'Hi, Al.'
'baru bangun ya? Sorry, sorry. ntar aku telp lagi, deh.'
'Gak apa-apa. aku emang harus bangun.'
'bener gak apa-apa?'
'hmm ... ada apa?'
'Gimana Lawu?'
'Hujan deras. Kejebak di pos 4. Gak bisa ngapa-ngapain.'
'Yah, Sayang dong.'
'Udah biasa, kok. minggu depan kesana lagi. Mungkin mampir Yogya. Tengok anakku.'
'Aku kangen sama Rangga. Pengen peluk dia.'
'Akhir bulan ini mau aku ajak ke Jakarta. Liburan sekolah.'
'Ikutan dong. Aku kangen banget ama dia.'
'Ntar Suamimu cemburu.'
'Dia gak pernah cemburu. Dia juga gak pernah melarangku kemana-mana. Dia ... seperti tidak peduli sama aku'
'Tapi dia kaya kan?'
'Aku tidak butuh uangnya, Ben.'
'Oh, maaf.'
'Isterimu gimana?'
'apanya?'
'Dia akan kamu ajak?'
'Dia pasti gak mau.'
'Tapi kamu sebenarnya pengen ajak dia, kan?'
'Gak juga. Aku cuma pengen nyenengin Rangga aja. Udah 3 bulan gak ketemu.'
'Kenapa isterimu begitu sih?'
'apanya?'
'Katamu, dia gak peduli sama Rangga lagi.'
'Aku bilang, isteriku ‘seperti‘ tidak peduli sama Rangga. Bukan ‘sama sekali’ tidak peduli. Mungkin karena pekerjaannya. Dia kan workaholik. Tipe perempuan dengan banyak cita-cita dikepala. Cenderung Obsesif'
'Kenapa kamu kawin sama dia?'
'Kawin bukan cuma soal cinta, Al. Kawin soal komitmen?'
'Jadi menurut kamu isterimu gak bisa diajak berkomitmen?'
'Dia orang yg komit. Tapi ketika Rangga lahir, kami seperti kesusahan membagi tugas. Rangga seperti jadi penghalang cita-citanya. Aku sama dia jadi sering salah-salahan tanpa penyelesaian. Akhirnya Rangga yang jadi korban.'
'Kamu cinta isterimu kan, Ben?'
'Aku gak tahu, Al. Sekarang ini cintaku hanya buat Rangga.'
Layang-layang itu berusaha stabil ditengah angin yang mulai mengencang. Bergoyang. Kekiri. Ke kanan. Terlihat si kecil penarik tali layang-layang meringis menahan gunjangan. Luka tangan akibat besetan benang tidak dihiraukan. Pedih. Tapi senang.
'Kenapa kamu tidak cerai dengan isterimu, Ben?'
'Kamu juga kenapa tidak cerai dengan suamimu?'
'Kalau kamu ceraikan isterimu, aku akan ceraikan suamiku'
'Haha ...'
'Aku serius, Ben.'
'Ups. Sorry, aku cuma geli. Kamu tiba-tiba jadi melangkolis.'
'Aku memang melangkolis, Ben. Aku juga rapuh. Aku butuh orang yang memperhatikanku. Mengerti aku. Mencintai aku.'
'Aku bukan orang yang perhatian loh, Al. Aku juga bukan orang yang pengertian.'
'Tapi aku cinta ama kamu, Ben'
Sebuah layang-layang lain mendekat. lebih besar. Berwarna Hijau daun. Tanpa ekor. Anak-anak bersorak. Si Kecil pemegang kendali menjadi tertantang. Matanya yang semula menyipit berubah lebar. Tajam.
Kriiiing! Kriiiiiiiing! Kriiiiiiiiiiing!
'Sorry Al, aku lagi mandi. Bisa telp 5 menit lagi?'
'Gak bisa ya terima telp sambil mandi. Hp mu kan bisa di buka speakernya?'
'Kalau kamu gak keberatan?'
'Aku malah bisa sambil ngebayangin kamu.'
'Hmm ...'
'Aku kangen sekali ama kamu, Ben.'
Layang-layang hijau mulai mengejek layang-layang si kecil. Menantang. Sorak-sorai anak-anak yang lain membuat telinga si kecil jadi panas. Si kecil menggerakkan tangan kanannya, mendekatkan layang-layangnya ke arah lawan.
'Suamimu kemana?'
'Jangan tanya dia kemana. Dia tidak kemana-mana. Tapi aku tidak merasakan kehadiran dia.'
'Kalau sampai dia tahu gimana?'
'Dia bakal gak peduli.'
'Sekalipun kamu bicara soal cinta?'
'Sekalipun aku bicara soal sex dia juga tidak akan peduli. Dia laki-laki dingin. Statis. Tidak bergairah. Tidak sepertimu. Selalu membara.'
'Ah, kamu Al. Aku suka kalau kamu sudah membandingkan aku dengan suamimu.'
'Ben. Aku kangen sama kamu.'
'Aku juga.'
'Aku ke kamar mandi dulu ya. Jangan ditutup hpnya.'
Layang-Layang hijau tidak mau kalah. Dia menukik, menyentuhkan tubuhnya ke ekor si lawan. Terlihat Layang-layang si kecil bergoyang. 'Woooo!!!!' teriak anak-anak yang lain.
'Aku sudah berbaring di bath up, Ben. Kamu?'
'Aku duduk di Closet.'
Layang-layang si kecil membalas menukik tidak mau kalah.
'Ben aku bayangin kamu mendekapku.'
'Aku juga.'
'Aku menyentuhnya, Ben.'
'Aku .... juga menyentuhnya.'
'Aku .... '
'Al ...'
Layang-layang si kecil semakin memburu layang-layang Hijau. Dengan gesit layang-layang hijau menghindar untuk kembali menampar layang-layang si kecil. 'Anjing!' pekik si kecil.
'Aku mulai naik, Ben.'
'Aku suka itu, Al. teruskan.'
'Aku naik, Ben.'
'Aku .... juga.'
'Woooooo!!!!' pekik anak-anak sambil tepuk tangan. Layang-layang hijau mulai menjeratkan benangnya ke layang-layang si kecil.
'Aku gak kuat, Ben. Aku ...'
'Teruskan, Al. Teruskan ...'
Layang-Layang Hijau bergerak-gerak menggesek-gesekkan benangnya ke layang-layang si kecil. Saling tumpang tindih. Saling beradu. Diatas langit senja yang mulai memerah itu kedua layang-layang itu saling menampar. Sengit. Bergairah.
'Aku sebentar lagi, Ben ...'
'Teruskan, Al ...'
'Bennn ...'
'Allll ...'
Benang layang-layang si kecil putus. Melayang tanpa benang terkait. Mengembara menuju langit senja yang mulai memerah. Sendirian. Lepas … Lepas …
Perlahan, mata si kecil menjadi kosong. Nanar. Suara teman-temannya yang mengejek menjadi sumbang. Bergema. Kemudian hilang. Tinggal keheningan yang menyayat. Dia merasakan tubuhnya seperti melayang. hanya airmatanya yang dia rasakan jatuh ke tanah. Dia ... kehilangan.
'Ben ... kenapa kamu tidak mau kawin sama aku?’
‘mmm …’
‘Daripada kita terus-terusan seperti ini.'
'Aku ...'
'Aku bisa jadi Ibu yang baik buat Rangga. Isteri yang setia.'
'Aku tahu Al. Aku tahu ...'
'Ceraikan isterimu. Lalu menikahlah denganku.'
'Aku takut.'
'Takut apa?'
'Aku tidak tahu, Al ...'
'Beni yang aku kenal selalu tertantang sama batu-batu dan lereng-lereng terjal.'
'hentikan, Al ...'
'Berani melawan hujan badai, sekalipun seorang diri diatas gunung ...'
'Hentikan! Please!'
'Berani menari diatas bukit-bukit terjal menantang curamnya jurang.'
'HENTIKAN!!!'
'Aku mencintaimu, Beni! Aku mencintaimu!'
'Aku .... takut. Al'
***
Dengan mata basah, si kecil masuk ke rumah. Seorang lelaki tua mendekati. Menatap matanya yang basah lalu menyeka kelopaknya. Si Kecil tidak berkata apa-apa. Seolah sudah terbiasa dengan sikapnya, si kecil dipeluk. Rasa kehilangan yang menyayat itu perlahan hilang. Berganti rindu. Rindu yang terpendam.
'Bapak kapan datang, kek?'
'Nanti kalau kamu libur sekolah.'
'Rangga kangen ....'
Lelaki tua yang disebut kakek itu kemudian mengajaknya masuk.
Krriiiing! Krrriiiiing!!!! Krrrriiiiiiiiiiiiiiiiing!!!!
‘Hai, gua Beni. Sorry, lagi gak bisa ngangkat telpon. Tinggalin pesan.‘
Jakarta, 23 April 2006
Hanung Bramantyo

24 Comments:
hmmm..nice.
salam kenal.
Wow, nice to have found this blog..
Salam kenal ya, saya pengagum karya2 mas hanung nih.. boleh saya link gak blog nya? Thanks before :)
Hayo Hanung nulis lagi. tulisanmu bagus... idenya itu...
luv to read ur blog....
salam kenal....
blh gak bagi2 ide/ diskusi gitu?? aqsuka nulis.... tapi masih amatir bangeeeeeet.... hehe... thx
kulo nuwun Pak Hanung...
nyuwun sewu Pak Hanung...kawulo irham saking wonosobo, badhe nyuwun tulung, (nyuwun sewu)kawulo badhe nyuwun saran lan kritik saking Pak Hanung wonten cerpen kulo. meniko alamat blogipun; http://arhan-fiksi.blogspot.com/
matur nuwun...
pareng...
hai. Kaaturan rawuh dateng griya kulo, http://galerivideo.wordpress.com, utawi langsung kemawon dateng sakwingkingipun rumah sakit wirosaban. Rak celak to?
Salam,
Agus Yr.
ada niat nerbitin cerpen2nya?
heheheh....bagueeeeeessss......
Lucu lucu....;P
mau lagi dooong...
humm!!..om hanung..bleh tau contact personnya kgk??..buat ngisi seminar penyutradaraa..di kota saya???..hummm!!!!!
wah...cerpen! apa topik selingkuh itu memang tren atau paling laku di pasar?
gimana kabar Bhumi? saya mengenalnya ketika namanya Anda sebutkan saat menerima piala citra, lalu saya tuliskan di blog esoknya.
halo mas hanung..
lam kenal :)
cerpennya bagus..
keep writing :)
salam kenal, mas. wahhhh ceritanya!!! hahahha..bagus2. jadi teringat pertama kali saya bisa menulis cerita pendek yang nyeritain hubungan cewek-cewek. rasanya beda denga bikin cerita antara cewek-cowok. ayo, mas, saya tunggu lagi ceritanya.
sip deh ceritanya...salam kenal mas.
halo mas hanung, salam kenal ya
boleh di link kan?
oh cerpen toh...aku pikir pengalaman pribadi....
salam... kami BUMGEMBUL, media anak nusantara.. kunjungi kami yach..
GREAT...!!!MARVELOUS..!!!
Saya ingin mengundang Anda untuk menjadi pembedah film pada 25 september 2007 di FEUI.
Film yang akan diangkat terserah Anda...
You may contact us at 081519040662
or
May i have Your Contact Person Number?
Best Regard
Kadiv MI
halo bung hanung bramantyo, nama saya sapto raharjanto, ketika melihat film2 anda seperti lentera merah dan legenda sundel bolong, maka ada satu ketertarikan tersendiri bagi saya ketika mengamati latar belakang dari 2 film anda tersebut, yaitu mengenai peristiwa tragedi politik 1965, dimana pada saat itu di indonesia terjadi sebuah tragedi politik yang kemudian menelan nyawa jutaan rakyat indonesia, belum lagi adanya tragedi kemanusiaan di pulau buru, dan plantungan di jogja dimana orang-orang yang di PKI kan ditahan dan disiksa diluar batas prikemanusiaan disana, dan melalui coretan surat saya ini, saya ingin nanya ke bung hanung, apakah nggak tertarik untuk bikin film mengenai tragedi pembantaian massal yang terjadi pada tahun 1966-1969, atau film yang mengisahkan tragedi para tahanan politik di pulau buru, dan plantungan jogjakarta, mengenai bahan-bahannya bung bisa menghubungi sejarawan-sejarawan yang ada di jakarta, seperti DR. Asvi Warman Adam (08161649464), Hilmar Farid(0811156306), atau lembaga-lembaga yang konsen menangani masalah tragedi politik 65 JKB,ISSI jalan pinang ranti pondok gede mau ke arah lubang buaya, atau syarikat indonesia jogjakarta, pusdep univ sanata dharma jogjakarta, ada banyak sumber yang bisa bung peroleh dari sejarawan2 tersebut, yang pada intinya film tersebut adalah sekaligus sebagai sarana pendidikan bagi generasi muda kita agar mengetahui sejarah bangsanya yang suram pada era 66-69 atau periode transisi kekuasaan soekarno ke soeharto, saya tunggu respons dari bung hanung, terimakasih sebelumnya dan terus kreatif untuk bung hanung bramantyo,....nuhun
sapto raharjanto (Centre of local economic and politic studies/CoLEPS)
d/a perum sumber alam blok a no 11 jember jawa timur 68121
HP:085236612903
kita harus bisa berkomunikasi lebih lanjut via email, ada yang harus kita bangun berdua. saya juga lulusan jogja, sekarang lagi "mongmong' KSS (komunitas Seniman Santri). ada yang perlu digarap (film), tapi saya perlu bantuan saudara mas Hanung, tlng bisa diprioritaskan mas.. tks
Salam kenal Bung hanung...
aku eko susilo,,,salut buat AAC-nya. Menyusul Ahmad Dahlan,,,,sekarang aku tunggu film itu,saat berkumpul dengan anak-anak UGM dan Ahmad Dahlan saat di "Meja Bundar".
Assalamualaikum
Mas Hanung, saya siswa SMAN3MALANG, bisa minta alamat e-mail atau contact person?? saya pengen bkin event ttg ketika cinta bertasbih..
e-mail me: must_amri_go_on@yahoo.co.id
100% privacy quaranteed..
matur suwun..
wassalam..
Assalamualaikum
Mas Hanung, saya siswa SMAN3MALANG, bisa minta alamat e-mail atau contact person?? saya pengen bkin event ttg ketika cinta bertasbih..
e-mail me: must_amri_go_on@yahoo.co.id
100% privacy quaranteed..
matur suwun..
wassalam..
i'd love to know how you do dialogues. i write a bit - sometimes stories, too - but i never know how to do dialogues.
any tips?
nice one btw.
I am a big fun of your movies, I wish I could read all this in English. Thanks
Post a Comment
<< Home